Perkembangan KB di Indonesia

Pada bagian sebelumnya saya sudah bercerita tentang sejarah KB dunia. Yang diawali dari teori Malthus yang menyatakan bahwa pertumbuhan penduduk jauh lebih cepat dari kebutuhan hidup. Akibatnya pada suatu saat akan terjadi perbedaan yang besar  antara penduduk dan kebutuhan hidup. Laju pertumbuhan penduduk ini dapat ditekan dengan adanya birth control. Di Indonesia birth control ini dikenal dengan nama Keluarga Berencana (KB).

Bagaimanakah program KB berkembang di Indonesia?

Setelah saya googling dan mencari dari beberapa sumber, salah satunya dari bahan ajar diklatsar, saya memperoleh sedikit catatan untuk saya ceritakan disini. Mau tahu? Begini ceritanya.

Program KB di Indonesia dimulai sekitar tahun 1957. Pada tahun tersebut didirikan perkumpulan Keluarga Berencana (PKB). Pada saat itu program KB masuk ke Indonesia melalui jalur urusan kesehatan (bukan urusan kependudukan). Belum ada political will dari pemerintah saat itu. program KB masih dianggap belum terlalu penting. Kegiatan penyuluhan dan pelayanan masih terbatas dilakukan karena masih ada pelarangan tentang penyebaran metode dan alat kontrasepsi.

Begitu memasuki orde baru, program KB mulai menjadi perhatian pemerintah. Saat itu PKBI sebagai organisasi yang mengelola dan concern terhadap program KB mulai diakui sebagai badan hukum oleh departemen kehakiman. Pemerintahan orde baru yang menitikberatkan pada pembangunan ekonomi, mulai menyadari bahwa program KB sangat berkaitan erat dengan pembangunan ekonomi.

Kemudian pada tahun 1970 resmilah program KB menjadi program pemerintah dengan ditandai pencanangan hari keluarga nasional pada tanggal 29 Juni 1970. Pada tanggal tersebut pemerintah mulai memperkuat dan memperluas program KB ke seluruh Indonesia.

~hs~

Saya mendapat cerita dari para penyuluh KB senior bahwa pada awal pelaksanaan program KB (di tahun 70-an), mereka banyak mendapat tentangan dari berbagai lapisan masyarakat. Ketidak tahuan masyarakat dan para tokoh-tokohnya membuat program ini ditolak mentah-mentah. Apalagi tokoh-tokoh agama yang kala itu masih menganggap KB adalah upaya pembunuhan calon bayi membuat masyarakat semakin berani menolak program ini.

“Wah saya sampai diacungi golok.” Demikian komentar Bu Aan, salah seorang penyuluh KB senior di Kabupaten Cianjur pada sebuah pertemuan yang kami laksanakan rutin setiap hari jumat.

“Itu sudah jadi hal yang biasa. Malah kadang, kita berhari-hari berada di lapangan sebelum dimulai pelayanan. Kita mengadvokasi tokoh-tokoh masyarakat di satu hari, kemudian memberikan penyuluhan kepada masyarakatnya sendiri berdampingan dengan sang tokoh yang sudah di advokasi pada hari lainnya.” Bu Aan masih memaparkan.

“Lalu dilanjutkan dengan pelayanan KB-nya itu sendiri.” pungkas Bu Aan, yang merupakan salah satu senior saya di kantor.

Selama hampir 30 tahun program KB berjalan, dari tahun 1970-2000, baru masyarakat Indonesia bisa menerima bahwa KB adalah kebutuhan. Berangsur-angsur dari tahun ke tahun berkat kegigihan para pejuang KB pada masanya, masyarakat negeri ini mulai sadar dan mengerti bahwa ternyata program KB bukanlah program pembunuhan calon bayi. Namun program untuk mengatur kelahiran bayi supaya tidak terlalu berdekatan dan tidak terlalu banyak.

Nampaknya hal ini memang tidak mudah dilakukan. Selama berpuluh tahun para pejuang KB di lini lapangan terus memperjuangkan dan menyadarkan masyarakat bahwa program KB ini adalah salah satu program yang dapat menghantarkan mereka memiliki keluarga yang berkualitas.

Angka mencatat, terdapat penurunan TFR Selama dari tahun 1970 hingga tahun 2000.

Apa sih TFR? Sejenis angka sensus kah? Hehe, bukan… TFR adalah kependekan dari Total Fertility Rate, yaitu rata-rata kemampuan seorang perempuan melahirkan bayi selama masa reproduksinya. Pada tahun 1970, TFR tercatat 5,6. Ini artinya pada tahun tersebut, rata-rata perempuan Indonesia melahirkan bayi antara 5 hingga 6 orang bayi selama masa suburnya. Dan pada tahun 2000, TFR turun menjadi 2,8. Artinya di era 2000-an ini kemampuan seorang perempuan bereproduksi menghasilkan 2 hingga 3 orang anak selama masa suburnya.

Penurunan angka rata-rata kelahiran ini tentu tidak lepas dari peranan para penyuluh KB lapangan atau yang lebih dikenal dengan tenaga PLKB. Mereka lah yang berjasa menyadarkan masyarakat bahwa betapa pentingnya memiliki anak yang tidak terlampau banyak. Berkat perjuangan tersebut, Indonesia berhasil menekan jumlah penduduk sebanyak 79 juta jiwa selama dari tahun 1970 hingga 2000.

Berdasarkan data yang saya peroleh pada saat pelatihan dasar umum tahun 2006 di Balai diklat BKKBN Provinsi Jawa Barat, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 1970 tercatat lebih kurang 110 juta jiwa, maka setelah dilaksanakan program KB, pada tahun 2000 jumlah penduduk Indonesia adalah 203 juta jiwa. Itu setelah dilaksanakan program KB. Jika program KB tidak dilaksanakan, maka jumlah penduduk di Indonesia diprediksi akan meledak hingga 282 juta jiwa. Sebuah angka yang fantastis bukan?

Kita bayangkan saja, jika pada tahun yang sama jumlah penduduk Indonesia lebih banyak, maka akan banyak tempat dan lahan pesawahan yang terbabad menjadi lahan perumahan. Akan banyak sekolah-sekolah yang harus dibangun oleh pemerintah jika ingin rakyatnya tetap terpelihara. Akan banyak biaya yang digunakan oleh setiap keluarga untuk menafkahi anggota keluarganya. Akan banyak sekali masalah-masalah lainnya. Dan itu akan lebih pelik dibandingkan dengan masalah yang ada saat ini. sekarang saja, dengan adanya program KB, kemiskinan masih belum terhindarkan. Apalagi jika program KB tidak dijalankan? Apa jadinya bangsa kita? apa jadinya kota tempat tinggal anda? Apa jadinya keluarga anda? Dan akan jadi apa anak-anak anda kelak, jika mereka tidak terpelihara secara kualitas, sementara persaingan di era modern ini makin ketat!!!

~hs~

Memang perjuangan para tenaga penyuluh KB seolah tidak ada. Tidak terlihat dan tidak terasa. Padahal tanpa mereka, program KB mungkin tidak akan terlaksana. Tanpa mereka keberhasilan program ini hanya akan menjadi isapan jempol belaka. Sudah seharusnya lah mereka diberikan kesejahteraan yang lebih baik oleh pemerintah karena mereka lah yang menjadi ujung tombak keberhasilan program KB di Indonesia. (HS)

nb: dilarang menjiplak seluruh isi tulisan tanpa sepengetahuan pemilik blog ini

About these ads
Explore posts in the same categories: tentang KB

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

17 Comments on “Perkembangan KB di Indonesia”

  1. oky septya Says:

    Tulisannya bagus…

    Saya copy/paste yg paragraf ada data jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat saja ya untuk slide presentasi tugas…

    Dan tentulah saya pasti cantumin website anda :D:D
    Makasih yaaa :):)

  2. icha lala Says:

    knp g diceritaen gmn perkembangan jenis2 KB..
    misal dulu kan yg ada masih KB pil tp sekarang kb suntik bahkan sterilisasi pun udah ada…

    • hadisome Says:

      Maksudnya gmn mbak icha? Kalo jenis2 kb dr dulu sampe sekarang hampir sama, kecuali kondom perempuan dan pil kb pria yg akan segera diluncurkan, merupakan penemuan baru. Sisanya hampir sama, hanya mungkin perubahan bentuk saja, seperti halnya spiral yg berubah jadi copper T pada IUD

  3. layar Says:

    saya ijin copi sebagian….^_^

  4. tyas Says:

    infonya sangat membantu :)

  5. choshi Says:

    aku copy/paste ya buat bahan makalah….
    nnnti aku cantumin alamat websitenya di daftar pustaka….
    terima kasih….

  6. vayya Says:

    q copy ya buat bhan makalah …..
    artikel ini sangat membantu saya

  7. dede Says:

    minta ijin um,, maw copy buat kepentingan study ^^,
    nb : gak bakalan disalahgunakan koq um .. makasih sebelumnya ..

  8. lupi Says:

    minta ijin gan, buat tugas studi. ntar di edit lg kok, dan referensinya nyantumin ke blog abang


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,153 other followers

%d bloggers like this: