Posted tagged ‘banjir jakarta 2013’

Banjir Jakarta, Ulah Siapa?

18/01/2013

Tulisan ini, saya muat di blog tentang KB meskipun tidak bertema KB sama sekali karena saya pikir, tulisan ini merupakan bentuk penyuluhan untuk mengajak pembaca lebih sadar dengan apa yang sedang terjadi saat ini, dan tingkat keterbacaan di blog ini lebih besar daripada di blog saya yang satu lagi. selamat membaca.

-hs-

Menyambung  tulisan salah seorang teman tentang banjir besar Jakarta yang terjadi pada hari kamis, 17 Januari kemarin yang menyoroti bahwa ketidaktertiban warga Jakarta terhadap peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah adalah salah satu penyebab kenapa akhirnya Jakarta terjadi banjir yang demikian hebat,  Saya jadi tergerak untuk menuliskan apa yang ada di kepala saya sejak kemarin.

Jika teman saya menyoroti tentang perilaku warga Jakarta yang tidak tertib, saya hanya menyambungnya dengan perilaku warga yang tidak mencintai kotanya. Iya, saya pikir demikian. Kenapa akhirnya kota Jakarta banjir, saya pikir itu semata-mata adalah bentuk protes Jakarta terhadap warganya yang tidak mencintai kotanya. Bayangkan saja, setiap hari, ada berapa ton volume sampah yang dibuang ke sungai atau kali. Padahal, saya lihat, kali-kali di Jakarta itu tidaklah besar dan lebar. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana kota Jakarta bisa menahan diri untuk tidak mengetuk warganya agar berbuat baik terhadapnya.

Saya memang bukan warga Jakarta dan tidak sering mendatangi Jakarta. Saya juga mungkin tidak tahu hiruk pikuk Jakarta sehari-harinya. Namun percayalah, saya ikut prihatin jika ibukota Negara tercinta terendam air karena ulah dan perilaku warga yang tinggal di sana.

Di pikiran saya, sebuah kota itu ibarat mahluk hidup yang sama-sama memiliki rasa. Sama seperti manusia yang akan merasakan sakit ketika ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh. Begitu pula dengan kota yang ditinggali oleh manusia, dia akan merasakan sakit ketika perilaku warganya tidak ramah terhadapnya. Itulah yang terjadi pada Jakarta dalam satu decade ini. Jakarta disakiti warganya dan akibatnya Jakarta protes terhadap warganya. Perilaku tidak ramah warga terhadap Jakarta sudah  banyak kita saksikan, mulai dari buang sampah sembarangan, buang sampah ke sungai/kali, kurangnya resapan air, hingga bantaran kali yang dijadikan perumahan. Jakarta seolah-olah tidak diberikan ruang gerak untuk bernafas. Warga Jakarta dan non Jakarta yang setiap hari bolak-balik Jakarta, tidak perduli dengan kondisi Jakarta yang mulai kesulitan untuk ‘bernafas’.  Padahal saya lihat, kebijakan gubernur baru Jakarta sudah mulai pro Jakarta agar Jakarta bisa bernafas lagi.

Senada dengan yang disampaikan teman saya, Tio, bahwa warga Jakarta tidak tertib terhadap peraturan pemerintah yang dibuat demi kepentingan Jakarta, saya juga berpendapat demikian. Jika saja warganya mau taat dengan peraturan yang dibuat pemerintah supaya Jakarta bisa sedikit bernafas, mungkin kondisi bencana banjir ini bisa diminimalisir dan tidak separah sekarang.

Banjir Jakarta, Ulah Siapa?

banjir jakarta ulah siapa?

Saya memang bukan aktivis lingkungan, juga bukan warga yang apriori dan ingin menyalahkan warga lainnya. Saya hanya ingin mengetuk sesama kita untuk lebih perduli dengan kota tempat tinggalnya atau kota tempat mencari nafkahnya. Mencintai kotanya dengan cara lebih perduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Tidak perlu jauh-jauh, cukup mentaati peraturan yang ditetapkan, mulai dari kesatuan terkecil. Diri sendiri. Kalau peraturannya adalah harus menjaga kebersihan, ya taati. Jika peraturannya harus lebih perduli lingkungan, ya taati.

Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan. bahwa banji ini kiriman dari Puncak, atau karena perilaku membuang aneka jenis sampah ke sungai, dan sebagainya. lah, kalau dilihat siapa yang salah, ya semuanya ulah manusia juga. Berapa banyak warga plat B yang membangun villa di Puncak yang berakibat lahan yang seharusnya menjadi area resapan air, tidak lagi memiliki kapasitas untuk itu. Berapa banyak warga yang secara terang-terangan membuang limbah rumah tangga dan sampah-sampah plastik sungai yang membelah kota Jakarta.  Jadi, tidak perlu saling menyalahkan. Interospeksi saja. Jadikan kejadian ini sebagai pelajaran yang sangat berharga supaya, setidaknya, untuk tahun-tahun ke depan, kita bisa lebih preventif terhadap kejadian serupa.

Saya pikir, tidak ada kata terlambat untuk mulai menanamkan kesadaran di diri setiap warga bahwa kota tempat tinggal dan tempat mencari nafkah itu adalah bagian dari mahluk yang harus sama-sama hidup berdampingan. Harus saling menjaga. Saling memberi dan menerima. Sehingga tercipta Simbiosis mutualisme. Keseimbangan antara alam dan penghuninya.

Memang, tidak akan mudah mengubah perilaku dan kebiasaan yang sudah turun temurun. Tapi tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki keperdulian yang sama terhadap lingkungan di sekitar kita. Setidaknya, meskipun butuh waktu puluhan tahun untuk mengubah perilaku, namun tidak ada salahnya perlahan-lahan kita mulai mengubah sedikit saja perilaku kita untuk lebih perduli lingkungan. (HS)

Bdg-18012013

 

 

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,148 other followers