Archive for the ‘tentang KB’ category

Jumbara, Jumpa Gembira Tralalalala…

14/02/2011

Gubernur Ahmad Heryawan sebelum membuka Jumbara - HS.2011

Hari selasa hingga kamis (8-10 februari) lalu, kantor saya mengikuti kegiatan yang diselenggarakan BKKBN Provinsi Jawa Barat. Acara yang diberi titel JUMBARA itu digelar di kawasan wisata Pantai Pangandaran.
Namanya saja sudah JUMBARA alias Jumpa Bakti Gembira.

Diselenggarakan dengan paket semacam Jambore Pramuka. Peserta yang terlibat adalah seluruh petugas penyuluh dari semua kabupaten kota se-Jawa Barat.

Kegiatan yang mengambil tema “43 Juta penduduk Jawa Barat kita kendalikan melalui Gumelar” ini dilaksanakan secara marathon selama 4 hari. Dalam kegiatan ini dilaksanakan beberapa kegiatan, yaitu:
1. Rakerda program KB Nasional Jawa Barat
2. Pencanangan Bhakti IBI
3. Peluncuran GUMELAR (Gerakan Untuk Meningkatkan Lini Lapangan
Rancage)
4. Apresiasi Seni
5. Aneka Lomba

Khusus untuk aneka lomba tersebut, saya mengambil bagian sebagai peserta lomba entry data. Namun sungguh disayangkan, ketidak siapan pihak penyelenggara yang diwakili oleh event organizer tampak nyata sekali. Ini terlihat dari tidak sikapnya lokasi lomba entry data yang akan digelar pada pukul 8 pagi di hari ketiga penyelenggaraan kegiatan JUMBARA ini.

Sedikit bercerita tentang ketidak profesionalan EO penyelenggara terlihat dari belum siapnya tempat acara. Padahal menurut rundown ketika technical meeting, acara harus sudah dimulai pukul 8 pagi. Namun ketika saya hadir pukul 8 kurang 15 menit, tempat belum disiapkan sama sekali. Malah saya harus menyaksikan tempat yang berupa aula dibersihkan alakadarnya dengan instant terlebih dahulu. Sungguh disesalkan.

Hampir 4000 petugas pengelola program KB dan kependudukan se-Jawa Barat berkumpul di acara serupa Jambore ini. Berlokasi di Pangandaran ternyata memberikan keuntungan tersendiri. Saya dan yang lainnya bisa sambil berjalan-jalan menelusuri nuansa eksotik pangandaran. Saya sudah menuliskannya di sini.

Oya, kenapa saya menyebutkan bahwa ini adalah kegiatan pengelola program KB dan Kependudukan. Tidak “pengelola program KB” saja. Mungkin perlu anda ketahui bahwa sejak berlakunya UU no. 52 tahun 2009, BKKBN sudah bukan lagi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional saja, melainkan sudah berganti nomenklatur menjadi BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL. Jadi segala macam tetek bengek tentang kependudukan akan menjadi bagian dari pekerjaan karyawan BKKBN ini. Tentu saja sangat berkaitan antara pengendalian kelahiran yang diurus melalui program KB dengan pengendalian jumlah penduduk dan segala macam urusan kependudukan.

Kembali lagi ke acara jumbara tersebut. Acara ini konon katanya bertujuan sebagai acara syukuran keberhasilan program KB khususnya di Jawa Barat. Betapa tidak, selama lebih dari hampir empat puluh tahun program KB terlaksana, Program ini sudah berhasil menekan angka kelahiran penduduk Indonesia lebih dari 80 juta jiwa. Jadi rasanya hal ini patut untuk disyukuri. Bayangkan saja jika penduduk Indonesia tidak terkendali, mungkin jumlahnya akan serupa dengan negeri india atau bahkan mungkin China. Iya kalau pembangunan penduduk merata, kalau masih timpang seperti ini, penambahan 80 juta jiwa akan sangat terasa memberatkan.

Jadi, melalui tulisan ini saya mengajak, yuk lebih aware dengan program KB. Ini tidak hanya kewajiban saya semata lho, tapi juga kewajiban anda semua untuk turut berkontribusi kepada pembangunan negeri kita, setidaknya dengan mengikuti program KB. Alat KB-nya mau seperti apa, anda bisa baca-baca di blog tentangkb yang saya kelola. (HS)

HS – Kompasianer yang sempat dituduh ingin menghancurkan program oleh atasannya. So sad… ^_^

Ci Lina, Pos KB keturunan Tiong Hoa

02/02/2011

Hampir lima tahun saya bekerja sebagai petugas lapangan dengan sebutan Penyuluh Keluarga Berencana. Meskipun baru-baru ini Kepala Badan di mana saya berkantor dan bekerja menyebut saya tidak loyal karena keinginan saya pindah ke BKKBN Propinsi, namun itu tidak menjadikan saya menjadi tidak loyal dan ingin menghancurkan program KB sebagaimana tuduhannya. Saya justru selalu ingin menceritakan hal-hal yang menurut saya membangun program.

Seperti cerita ini, tentang mitra kerja saya di tingkat kelurahan.

Sebagaimana tercantum dalam tupoksi (tugas pokok dan fungsi) seorang penyuluh, maka saya menjalin kerja sama dengan elemen di tingkat kecamatan, kelurahan/desa, hingga tingkat RW dan juga RT. Untuk tingkat kelurahan/desa, mereka disebut institusi Pos KB.

Selama hampir lima tahun bekerja, saya selalu menjalin kerjasama dengan para Pos KB ini. Karena sesungguhnya, mereka lah yang membantu pekerjaan saya di tingkat lapangan. Dan selama 5 tahun itu pula saya bertemu dengan beragam orang dari beragam usia. Rata-rata semuanya seusia dengan bapak atau paman saya.

Di tempat tugas saya saat ini, di kecamatan yang merupakan ibukota Kabupaten, mitra kerja di tingkat desa/kelurahan hampir semua ibu-ibu. Dan yang menarik lagi, pos KB yang kini bekerja sama dengan saya adalah seorang WNI dari suku tionghoa. Herlina namanya. Saya memanggilnya dengan sebutan Cici Lina atau Ci Lina.

Meskipun tergolong baru dalam dunia per-KB-an, saya dan Ci Lina mampu menjalin kerja sama yang harmonis. Tidak ada sekat diantara saya dan dia. Kami merasa apa yang kami kerjakan adalah untuk membantu kalangan keluarga pra sejahtera yang tak seberuntung kaum kaya. Jadilah kami solid sebagai satu tim.

Pun dengan keseharian yang berbeda antara saya dan dia. Tidak ada hambatan sama sekali. Dia penganut Katolik yang taat, dan saya Muslim yang memegang teguh keyakinan saya. Itu tidak menjadi hambatan. Di saat semua orang menjadikan perbedaan agama sebagai penghambat, justru saya menjadikan itu sebagai perekat hubungan kerja dengan cara memberikan toleransi sesuai dengan porsinya.

Saya justru mengacungi jempol untuk etos kerja yang ditunjukan Ci Lina. Seperti kebanyakan etnis tionghoa, etos kerja Ci Lina ini tergolong luar biasa. Ketika pekan lalu kami akan mengadakan pelayanan KB berupa pemasangan KB IUD gratis, Ci Lina dengan semangat luar biasa berkeliling ke beberapa RW untuk mencari ibu-ibu muda yang berasal dari kalangan keluarga yang kurang mampu untuk diajak ber-KB. Dan dalam waktu satu hari, dia berhasil mengumpulkan 10 orang yang mau dipasangi IUD. Saya yang menyertainya berkeliling, memberikan penyuluhan dan informasi seputar apa itu IUD.

Bahkan menurut penuturan Ci Lina ketika saya temui kemarin di rumahnya, ia menuturkan bahwa malam hari sebelum dilaksanakan pelayanan KB tersebut, dia masih menyempatkan berkeliling ke lokasi yang agak jauh dari rumahnya. Padahal jam sudah menunjukkan angka 10 malam. saya sangat mengapresiasi dan bangga terhadapnya.

Disaat orang lain masih mempermasalahkan kesukuan, WNI dan WNI keturunan, saya dan Ci Lina berhasil meleburkan sekat itu. Tidak ada perbedaan lagi. Saya merasa dia adalah bagian dari warga Indonesia yang juga turut concern dengan program KB. Dia turut andil dalam menekan laju kelahiran dengan cara mensosialisasikan KB kepada orang-orang yang berada di lingkungan tempatnya tinggal.

Satu lagi yang patut saya jadikan teladan adalah Ci Lina ini selalu bekerja tanpa pamrih. Dia tidak pernah mengharapkan ada uang atau apapun dari kegiatan KB ini. Karena memang saat ini program KB hanyalah program yang sudah dipandang sebelah mata saja, maka kesejahteraan para petugas dan mitra kerja sudah kurang terperhatikan. Namun justru Ci Lina menjadi inspirasi saya untuk bekerja ikhlas.

“Saya hanya berusaha menolong tetangga yang kurang mampu untuk ikut KB agar anak-anaknya yang sudah lahir dapat terbiayai.” Begitu katanya suatu saat ketika saya mengobrol dengannya.

“Bukan masalah ada tidaknya uang. Yang penting bagi saya saat ini, pasangan-pasangan muda itu tidak punya anak terlalu banyak. Saya hanya berusaha menolong mereka dengan mengajaknya ber-KB.”

Luar biasa. Saya sempat terharu mendengar ucapannya, dan juga menjadi malu hati .Kadang-kadang saya menggerutu ketika harus ngider-ngider ke lapangan, ke pelosok-pelosok desa, untuk mensosialisasikan kegiatan KB gratis dan memberikan penyuluhan kepada mereka yang menjadi sasaran.

Dari Ci Lina ini saya belajar, bahwa bekerja itu adalah ibadah, ikhlas, tanpa pamrih, dan membantu sesama.

Ya, kita bisa belajar dari siapapun tentang nilai-nilai kehidupan ini. Perbedaan bukan alasan untuk mendapatkan nilai hidup. Meskipun jika bicara kesukuan kami berbeda, saya seorang sunda dan Ci Lina seorang keturunan tionghoa, namun itu tidak menjadi penghalang untuk saya belajar tentang nilai kehidupan.

Ibu Erlina atau Ci Lina, bertopi menghadap kamera - Foto: HS.2010

Besok adalah perayaan tahun baru sistem penanggalan China. Saya ucapkan Gong Xi Fat Choi kepada Ci Lina yang akan merayakan bersama keluarga besarnya.

Selamat tahun baru Imlek untuk anda yang merayakannya. Semoga di tahun kelinci nanti, kehidupan yang lebih baik akan menyertai kita semua. (HS)

Kakimanangel, 02022011.

nb: Tulisan ini adalah sebentuk apresiasi saya untuk etos kerja Cici Lina. dimuat juga di blog kompasiana

Partisipasi Pria dan Kesetaraan Gender

22/12/2010

selama ini kaum perempuan lah yang menjadi subjek program KB - HS.2010

Sore ini saya sedang ngetwit bersama teman-teman. Tiba-tiba sebuah berita muncul di timeline saya yang berasal dari twit media berita yang saya follow. Saya menjadi tertarik untuk membaca berita karena berita itu isinya seputar program KB.

Judul berita yang dimuat di situs berita antaranews.com itu berjudul “KB Pria mampu mewujudkan kesetaraan gender”.

Dalam berita tersebut tertulis pernyataan kepala BKKBN Pusat, Sugiri Syarief. Sugiri menyatakan bahwa Peningkatan partisipasi pria dalam Program KB dan Kesehatan Reproduksi adalah langkah yang tepat dalam upaya mendorong kesetaraan gender dan menyuksekan pencapaian pembangunan Milenium (MDGs) 2015.

Sugiri meneruskan pernyataannya bahwa kita tidak bisa menutup mata, selama kurun waktu 30 tahun keberhasilan program KB masih banyak didukung oleh peran wanita dalam penggunaan alat kontrasepsi. Pada tahun 2002 tercatat tingkat pemakaian kontrasepsi adalah 60,3 persen. Kontribusi pria terhadap angka itu hanya 1,3 persen yang terdiri dari kondom saja.

Selain itu, Sugiri juga menyatakan bahwa akses informasi dan akses pelayanan KB pria menjadi terbatas karena minimnya kualitas pelayanan yang belum sesuai harapan, terbatasnya pilihan cara dan metode KB pria yakni kondom dan MOP, serta rendahnya dukungan politis dan sosial budaya.

Memang belum banyak pilihan untuk para pria berkontribusi dalam KB. Hanya ada dua saja, kondom dan vasektomi. Selain hal di atas yang disebutkan Sugiri Syarief, kendala lainnya mengenai partisipasi pria terhadap program ini adalah rendahnya minat pria untuk ber-KB, serta kurang sadarnya para pria untuk berpartisipasi dalam program ini, seperti yang tertuang dalam tulisan saya sebelumnya.

“ Peningkatan partisipasi pria untuk ber-KB ini dapat mendukung peningkatan pencapaian kesetaraan gender.” Demikian Sugiri Syarif berpendapat tentang hubungan partisipasi KB Pria dan Kesetaraan gender.

Sugiri melanjutkan, ” Dalam MDGs isu pertumbuhan penduduk, keluarga berencana dan kesehatan reproduksi tidak disebutkan secara eksplisit, namun banyak studi membuktikan MDGs tidak mungkin dicapai jika persoalan dasar kependudukan tidak ditangani dengan baik.”

Terkait dengan hal itu, ada sedikit berita yang membuat para praktisi KB tersenyum lebih lebar. Apa pasal?

BKKBN Pusat bekerja sama dengan Unair Surabaya dan PT Indofarma melaksanakan penanda tanganan nota kesepahaman atau MoU dalam bentuk kerjasama berupa penelitian, pengembangan, produksi, pemasaran, sosialisasi, dan distribusi kontrasepsi pria dari ekstrak daun Justicia gendarussa (daun gendarusa). Penanda tanganan ini terjadi sekitar akhir oktober lalu.

Semoga saja dengan dikembangkannya alat kontrasepsi untuk pria yang lain, selain vasektomi dan kondom, akan memberikan angin segar dalam peningkatan partisipasi pria dalam kesertaannya mengikuti program KB. Dengan begitu harapan tercapainya kesetaraan gender akan berakselerasi sesuai dengan tujuan MDGs 2015. (HS)

Kareyo, 22122010

 

sumber: antaranews.com

4 Alasan Program KB Tidak Lagi Menarik

17/12/2010

Akhir bulan Nopember 2010 lalu, saya berkesempatan mengikuti sebuah pelatihan yang dilaksanakan di Balai diklat KB Bogor. Pada kesempatan pelatihan tersebut, saya berkesempatan mendengarkan paparan mengenai program KB dari kepala BKKBN Propinsi Jawa Barat, Drs. Rukman Heryana.

Paparan dari Pak Rukman, demikian beliau biasa disapa, menarik perhatian saya. Pak Rukman memberikan sebuah penjelasan mengenai program KB saat ini yang sudah mulai mengalami kemunduran dibandingkan lima belas tahun yang lalu.

Menurut Pak Rukman, ada empat alasan mengapa program KB tidak lagi menarik dan tidak lagi diperhatikan oleh pemerintah.

1. Tidak ada kejadian luar biasa
2. Tidak ada demonstrasi
3. Hasilnya tidak terlihat, dan
4. Tidak bisa dipakai kampanye.

Saya ingin menguraikan apa yang dikemukakan oleh Pak Rukman berdasarkan pemikiran dan versi saya.

Pertama, tidak ada kejadian luar biasa.

Program KB menjadi tidak menarik dan tidak diperhatikan oleh pemerintah karena tidak ada kejadian luar biasa yang berkaitan dengan program ini. Coba saja tengok kejadian-kejadian luar biasa yang terjadi di negeri ini, serta merta akan menyedot perhatian pemerintah dan juga perhatian masyarakat Indonesia. Bencana adalah salah satu kejadian luar biasa.

Kedua, tidak ada demonstrasi.

Biasanya demonstrasi dilakukan untuk menarik perhatian pemerintah. Tengok saja demo-demo yang terjadi di ibukota. Hampir bisa dipastikan itu akan menarik perhatian, setidaknya perhatian dari para pencari berita.

Dalam program KB, tidak pernah ada demonstrasi dari masyarakat yang menuntut pemerintah untuk lebih memperhatikan kebutuhan ber-KB warganya. Hal ini berkaitan dengan alasan nomer tiga, yaitu:

Ketiga, Hasil dari program KB tidak terlihat.

Tentu saja hasil dari program ini tidak akan terlihat dalam waktu dekat seperti halnya program-program pemerintah lainnya. Program KB ini adalah program visioner yang hasilnya baru akan terlihat sekitar sepuluh hingga dua puluh tahun yang akan datang. Jumlah penduduk Indonesia sekarang ini adalah hasil kerja keras para petugas KB untuk menyadarkan warga agar mau ber-KB yang dimulai sejak tahun 1970-an.

Selama kurang lebih empat puluh tahun program ini berjalan, Indonesia berhasil menekan lebih dari 80 juta jiwa penduduk.

Benar apa yang dikemukakan pak Rukman. Output yang dihasilkan dari program KB ini tidak terlihat secara nyata. Hanya abstrak saja. Bandingkan dengan output yang dihasilkan oleh kementrian pekerjaan umum misalnya. Ketika pemerintah membuat program pembuatan jalan, maka rakyat akan dapat menikmati jalan baru tersebut secara nyata. Nah, program KB tidak seperti itu. output program ini tidak benar-benar nyata terlihat, namun ada.

Bingung?

Begini, saya coba sedikit kasih gambaran.
Jumlah penduduk Indonesia saat ini lebih dari 230 juta jiwa. Itu setelah ada program KB. Jika program KB tidak dilaksanakan mungkin penduduk negeri kepulauan ini akan meledak hampir mencapai 300 juta jiwa. Dengan adanya program KB, hampir 82 juta jiwa dapat ditekan dan dikendalikan. Anda bayangkan jika 80 juta jiwa itu lahir di muka bumi Indonesia? Apa kira-kira yang akan terjadi?

Sekedar mengingatkan, saat ini saja, dengan jumlah penduduk seperti tercatat dari BPS, negeri kita sudah kaya akan masalah. Masalah pendidikan, kesehatan, kesejahteraan rakyat, lapangan pekerjaan, dan sebagainya seolah-olah menjadi bagian tak terpisahkan dari pembangunan Indonesia. Apa jadinya jika jumlah penduduk membludak jauh lebih banyak?

Silahkan direnungkan, bagaimana kira-kira kondisi sosial negeri ini?

Keempat, tidak bisa dipakai kampanye.

Benar, program KB tidak menjual untuk dipakai kampanye menarik suara massa. Tengok saja program-program yang selalu menjadi daya tarik para politikus tak jauh-jauh dari masalah: kesehatan gratis dan pendidikan gratis. Saya belum pernah mendengar KB gratis dalam orasi kampanye seorang calon pemimpin atau calon anggota dewan. Padahal, ketika masyarakat tahu bahwa alat kontrasepsi semacam IUD atau implant itu mahal harganya, dan para politisi jeli memanfaatkan momentum, saya percaya KB juga bisa jadi nilai jual di ranah politik.

Bagaimana caranya? Ini adalah PR saya dan orang-orang yang concern dengan program KB untuk memintarkan rakyat yang belum tahu KB sehingga nanti program KB akan mempunyai nilai jual yang setara dengan pendidikan gratis dan sebagainya itu. (HS)

Semoga ada ide untuk menyambung tulisan ini.
Kakimanangel, 171221010.

Sekelumit tentang Implant

27/11/2010

Seorang teman SMA saya yang telah menjadi ibu mengeluhkan tentang betapa ribetnya dia mengikuti sistem KB. Sebagai ibu yang agak sedikit sibuk dan agak-agak pelupa, dia seringkali melewatkan keteraturannya minum pil KB yang ia konsumsi sebagai obat kontrasepsi pencegah kehamilan. Tentu saja hal ini mengganggu kesehariannya, karena jika dia lupa meminum, maka dia akan merasa was-was “takut kebobolan lagi”, padahal untuk mengurus satu anaknya yang masih kecil disela-sela karirnya, bukan hal yang mudah.

Saya  menyarankan untuk mengganti cara ber-KB yang dia pilih untuk menggunakan IUD. Tentu saja setelah ngobrol-ngobrol seputar macam-macam alat kontrasepsi. Namun, sebagai seorang perempuan rupanya dia agak ketakutan jika harus dipasangi alat iud meskipun ukurannya kecil.

Nggak berani” begitu alasannya.

Setelah saya jelaskan mengenai beberapa alat kontrasepsi yang bisa menjadi pilihannya, akhirnya pilihan jatuh pada alat susuk KB atau implant.

-hs-

Apa itu implant?

koleksi aaufajah.wordpress.com

Baiklah, sebelum anda memilih alat kontrasepsi jenis ini ada baiknya anda mengetahui terlebih dahulu apa sih implant itu. Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Maka dari itu supaya anda menyayangi diri dan keluarga anda dengan menciptakan keluarga berkualitas, maka anda harus mengenali alat kontrasepsi yang akan anda pilih ini.

Sebenarnya apa sih implant itu?

Implant adalah metode kontrasepsi yang dipakai di lengan atas bagian sebelah dalam. Berbentuk silastik (lentur). Berukuran hampir sebesar korek api. Implant dipakaikan biasanya pada lengan kiri. Ditanamkan diantara kulit dan daging. Tepatnya dibawah kulit namun diatas lapisan daging (otot), sehingga jika dilihat dari luar akan terlihat menonjol dan dapat diraba.

Maka dari itu, implant ini lebih dikenal dengan sebutan susuk kb, karena pemasangannya mirip pemasangan susuk.

Waktu pemakaiannya Implant ini bervariasi tergantung dari jenisnya. Ada yang efektif untuk jangka waktu lima tahun, tiga tahun, bahkan ada yang hanya satu tahun. Nah, maka dari itu anda harus meneruskan bacaan anda supaya mengenal ada jenis apa saja implant itu.

Implant, atau susuk KB, merupakan metode kontrasepsi hormonal. Maksudnya, di dalam alat kontrasepsi ini terkandung hormon progesterone. Hormon progesterone inilah yang mempengaruhi rahim anda sehingga ada hubungannya dengan pengaturan kehamilan anda.

Hormon yang terkandung dalam implant ini akan dilepaskan sedikit demi sedikit. Hormon ini akan bekerja pada rahim dengan membuat lendir di daerah rahim menjadi kental sehingga mengurangi transportasi sperma untuk menuju tuba fallopii (tempat terjadinya pembuahan). Keberadaan hormon ini juga dapat memberikan pengaruh pada proses pembentukan endometrium sehingga akan menyulitkan proses implantasi (proses tertanamnya sel telur yang terbuahi ke dalam dinding rahim). Selain itu hormon ini juga dapat menekan terjadinya ovulasi atau pembentukan sel telur.

Proses-proses tersebut dapat menghambat terjadinya kehamilan. Menurut buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi terbitan BKKBN Jawa Barat, efektivitas metode implant ini adalah 0,2 – 1 kehamilan per 100 perempuan. Artinya hampir 99 % implant ini efektif menghambat proses kehamilan. (HS)

Apa Yang Menarik dari KB?

13/10/2010

Tidak ada! Hampir sudah menjadi kebutuhan di era saat ini, Zaman dimana kaum perempuan dan laki-laki sama-sama berkarir. Masa dimana pendidikan anak mulai menjadi sesuatu yang utama. Waktu ketika manusia mulai sadar bahwa anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga kualitasnya supaya tumbuh menjadi manusia yang berkualitas.

Tapi coba tengok ke sekililing, buka mata fisik dan mata batin anda. Betapa banyak ternyata, kaum yang termarginalkan, yang berada dibawah garis kemiskinan, belum mengerti dan memahami kegunaan ber-KB. Sebuah ironi ditengah-tengah kehidupan modern. Bahkan masih ada yang beranggapan bahwa ber-KB itu haram karena mengubah takdir dengan cara menghalang-halangi hadirnya seorang manusia di muka bumi. Sebuah tinjauan yang, menurut saya, Keliru!

Sebagai sesama manusia, ada baiknya kita mengingatkan saudara-saudara yang belum mengerti akan pentingnya ber-KB untuk supaya mereka paham dan mengerti dengan konsep keluarga berkualitas karena dari keluargalah titik nol pendidikan seseorang dimulai.

Ketika peringatan Harganas (Hari Keluarga Nasional) juni lalu, presiden SBY memberikan sebuah pernyataan “Budaya terbuka dengan berdialog harus lebih ditingkatkan lagi. karena jika keluarga berkualitas, masyarakat juga kan berkualitas. Jika masyarakat berkualitas, bangsa juga akan berkualitas”

Sebagai pilar utama pembangunan, sebuah keluarga menjadi tolok ukur dan patokan yang penting. Masyarakat berkualitas tercipta berasal dari keluarga yang berkualitas pula. Namun, bagaimana untuk mewujudkan keluarga berkualitas ini? Agaknya inilah PR kita bersama.

Sebenarnya pemerintah sudah membentuk badan yang menangani masalah KB dan Kependudukan. Namanya BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional). Sebagai penyokong pembangunan berkelanjutan, BKKBN cukup concern dengan program KB-nya.  Melalui program KB, diharapkan masyarakat Indonesia memiliki kesadaran untuk menjadikan keluarga mereka berkualitas. Kualitas keluarga ditentukan tidak saja dari segi materi, namun dari segi pendidikan dan pemikiran. Jika saja pemikiran masyarakat kita sudah setingkat lebih tinggi dari saat ini, maka kebutuhan untuk memajukan mereka pun akan sedikit lebih baik.

Pemerintah, dalam hal ini BKKBN, telah berupaya menyediakan program yang bisa meningkatkan kualitas masyarakat melalui program-program yang sifatnya pemberdayaan masyarakat. Ada program BKB, BKR, BKL, dan UPPKS. Andai saja semua memiliki interest di titik yang sama, bukan tidak mungkin akselerasi pembangunan nasional akan segera tercapai. Namun, sebagai seorang insider sistem birokrasi negeri ini, saya cukup miris dengan kepentingan-kepentingan individu yang disusupkan dalam program-program ini, sehingga program pemberdayaan yang digagas pemerintah seolah jalan ditempat, bahkan mengalami kemunduran.

Jadi apa yang menarik dari KB? Silakan anda jawab saja. Masih dibutuhkan atau tidak ya?

Saya hanya mengajak,  mari sukseskan lagi program KB. Ajak dan beritahu tetangga-tetangga anda untuk mengikuti program KB. Siapa tahu dengan terkendalinya pertumbuhan penduduk, pembangunan dalam negeri mengalami peningkatan. Setuju tak? (HS)

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa II

20/08/2010

Siapapun pasti akan menjadikan orang tua dan gurunya sebagai pahlawan. The real superheroes. Pahlawan sejati bagi diri kita yang telah menjadikan kita sebagai manusia berguna. Orang tua yang memberikan pendidikan dan membesarkan kita, juga memperrkenalkan kita dengan segala pernik kehidupan. Juga Guru yang telah membuat kita bisa membaca dan menulis, modal awal untuk ngeblog.

Meskipun kita mengenal guru dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa, namun tetap jasa para guru tiada terkira. Wajar sekali jika kita menempatkan guru sebagai pahlawan di hati dan diri kita. sebutan itupun melekat pada profesi guru di negeri ini. Tapi tahukah anda bahwa ada sosok pahlawan tanpa tanda jasa lainnya yang tidak dikenal? Bahkan mungkin dilirik sebelah mata pun tidak. Pahlawan yang telah memberikan kontribusi lain pada pembangunan manusia di Indonesia. Ya, merekalah pahlawan Keluarga Berencana.

Saya bukan ingin mengangkat apa yang menjadi bidang pekerjaan saya saat ini, namun hanya ingin memperkenalkan kepada dunia bahwa mereka lah yang telah memberi sumbangsih besar pada pembangunan Indonesia di masa lalu. Dan kini, jasa-jasa mereka sudah dilupakan begitu saja seiring cepatnya perubahan paradigma pembangunan negeri ini.

Adalah Ibu Aan Nurhasanah, salah satu senior saya di kantor, yang telah menceritakan pengalaman pribadinya sebagai tenaga lapangan di sektor pengendalian penduduk ini. Dia menceritakan bagaimana awal mula dia memperkenalkan produk pengendalian penduduk bernama KB. Sungguh heroik di mata saya. Beberapa kali dia cerita hal yang sama, saya selalu tertegun. Betapa luar biasa perjuangannya untuk membuat program ini sukses.

“Zaman dulu, Tahun 70-an, awal-awal ada program KB, ibu sampai dikejar-kejar warga. Dianggap tukang bunuh anak. Bahkan sampai diacungi golok. Hanya karena mereka tidak mengerti apa itu KB.” Demikian Ibu Aan, salah satu petugas KB senior di kantor saya berkisah pada suatu meeting mingguan yang pernah kami laksanakan.

“Itu sudah jadi hal yang biasa. Malah kadang, kita berhari-hari berada di lapangan sebelum dimulai pelayanan. Kita mengadvokasi tokoh-tokoh masyarakat di satu hari, kemudian memberikan penyuluhan dan motivasi kepada masyarakatnya sendiri, berdampingan dengan sang tokoh yang sudah di advokasi pada hari lainnya.”

“Kemudian, kalau mau ada pelayanan KB, ibu sampai harus berjalan kaki ke kampung-kampung. Menyusuri pematang sawah untuk mencapai rumah warga yang berada di pelosok. Kemudian membujuk warga agar mau di KB. Bahkan tak jarang ibu harus menginap di rumah warga. Dan keesokan harinya, kami berangkat ngabring 1) ke tempat pelayanan.” Begitu lanjutnya.

Ibu Aan - salah satu pahlawan tanpa tanda jasa itu

Sungguh, sebuah kisah yang heroik bagi saya. Seorang perempuan yang bahkan rela mengesampingkan perhatian terhadap suami dan anaknya demi keberhasilan program pemerintah saat itu.

Kini bu Aan sudah hampir memasuki masa pensiun. Program KB sempat mendulang sukses di era Suharto. Mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinan Bapak Haryono Suyono. Bu Aan tidak perlu lagi harus menerjang bahaya karena kini warga masyarakat generasi ke dua sudah memahami dan mengerti arti pentingnya KB bagi pembangunan keluarga.

-hs-

Sejarah mencatat bahwa perkembangan penduduk Indonesia akan mengalami ledakan jika tidak ada pengendalian. Data berbicara, jika tidak ada program Birth Control, Negeri ini akan menjelma menjadi negeri yang kaya akan jumlah penduduk. Lebih banyak dari jumlah penduduk yang tercatat saat ini. Tertulis dalam sebuah prediksi bahwa jika tidak ada program tersebut, 110 juta jiwa penduduk negeri ini di tahun 70-an akan berbiak menjadi sekitar 282 juta jiwa pada era 2000-an. Namun itu dapat ditekan menjadi sekitar 200-an juta jiwa pada tahun 2000-an tersebut. Menghemat sekitar 82 juta jiwa melalui program birth control ini. Dan kini, sekitar 240 juta jiwa jumlah penduduk Indonesia. Padahal program KB sudah dilaksanakan. Petugas-petugas penyuluh KB masih memberikan informasi dan pengetahuan bagi setiap pasangan usia subur yang membutuhkan informasi. Anda bayangkan jika tidak ada petugas penyuluh dan tidak ada program KB? Berapa ratus juta jiwa penduduk di Indonesia?

Abstrak. Saya yakin itu. Anda tidak akan peduli karena apa yang sudah diperjuangkan para pahlawan KB ini tidak tampak nyata di mata kita semua. Bahkan mungkin di mata seseorang yang duduk di singgasana istana sana. Mengapa demikian? Ya, karena memang tidak terlihat secara nyata seperti apa perjuangan berat mereka. Yaitu berhasil menurunkan angka penduduk Indonesia sebanyak 82 juta jiwa itu.

Saya coba ajak anda membuka mata pikiran. Bayangkan. Saat ini, penduduk negeri kita sudah mencapai angka 240 juta jiwa. Keadaan ekonomi bangsa ini masih dikategorikan labil. Hutang luar negeri menumpuk. Warga miskin membludak. Anak putus sekolah tak terhitung meski program pemerintah gembar-gembor sekolah gratis. Angka pengangguran kian naik drastis dari tahun ke tahun. Fasilitas pendidikan banyak terabai, fasilitas dan sarana lalu lintas banyak tak terurus. Subsidi untuk rakyat tak sepenuhnya terbayarkan. Itu dengan jumlah penduduk yang tertahankan sebanyak 82 juta jiwa atau bahkan mungkin lebih. Apalagi jika tidak ada program pengendalian penduduk macam KB. Anda bisa bayangkan, akan makin berlipat masalah yang hadir di negeri ini. Sementara pemerintah masih “begini-begini saja”.

Akan makin besar dana pemerintah untuk anggaran pendidikan. Akan makin membengkak dana pemerintah untuk anggaran subsidi rakyat. Akan makin menggeliat anggaran untuk membiayai sektor-sektor pembangunan, karena manusia penghuni negeri ini sangat banyak sekali jumlahnya. Dengan pemerintahan seperti sekarang ini, bukan tidak mungkin hutang luar negeri kita akan sangat-sangat membludak. Sekali lagi, Itu jika tidak ada program KB.

Beruntung program KB hadir di negeri ini. Dan sudah sewajarnya pemerintah berterima kasih untuk para pejuang sejati yang memperkenalkan program ini selama hampir 40 tahun. Mereka mengajak masyarakat untuk sadar bahwa ada yang lebih penting dari sekedar punya anak banyak. Ada tugas yang lebih berat dari sekedar hanya melahirkan. Yaitu mengurus dan mendidik anak supaya menjadi manusia Indonesia yang berkualitas. Meski semua serba tidak enak. Mempertaruhkan harga diri bahkan nyawa, mereka tetap melaksanakan tugasnya hingga berhasil menekan itu.

Tayangan kick andy pernah membahas para pejuang ini pada 9 juli 2010. Ada banyak ibu Aan lainnya di seluruh Indonesia yang mendedikasikan separuh hidupnya untuk kebangkitan pembangunan negeri ini. bekerja penuh perjuangan meski tak ditoleh sedikitpun oleh pemerintah di masa kini padahal kontribusi untuk negeri ini sungguh besar. Ada dr. Luh Putu Upadisari dari Bali yang praktik di pasar Badung Bali demi menjemput bola melaksanakan program KB langsung terhadap sasaran. Atau Bapak Dedi Heryadi dari Tasikmalaya yang memilih untuk mengabdikan hidupnya menjadi tenaga penyuluh KB karena trauma dengan kesulitan kelahiran istrinya. Ia tidak ingin kejadian yang menimpa istrinya, menimpa kembali orang lain. Cerita serupa Ibu Aan datang dari Ibu Dalinem di daerah Prambanan Yogyakarta. Perempuan yang memasuki masa tua itu sungguh berjasa bagi pembangunan di Yogya sana. Pada tahun 1971, dia rela keluar masuk kampung mengajak warga lain untuk ikut KB padahal dia tidak dibayar. Dia rela mendapat cibiran dan cemoohan dari warga, hanya demi mengajak warga tersebut ikut KB.

Inilah saatnya pemerintah kembali membuka mata terhadap program KB dan memperhatikan kesejahteraan para petugasnya supaya program ini dapat kembali berjalan, bukan setengah hati seperti sekarang ini. Mengingat kontribusinya untuk negeri tak terhitung lagi. Sekarang jumlah jiwa negeri kita 240 juta jiwa. Apa jadinya jika penduduk tak lagi terkendali, sedangkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan stagnan seperti ini?

Kepada yang dihormati bapak Presiden, saatnya konsentrasi anda untuk rakyat dan para petugas pengendalian kependudukan tersebut. Perhatikan kesejahteraan mereka niscaya program ini akan menuai sukses lagi. Karena selain para guru, inilah real superheroes untuk negeri ini. Pahlawan tanpa tanda jasa dua. Petugas Penyuluh KB di seluruh pelosok negeri. (HS)

Kakimanangel, 20agustus2010

Didedikasikan untuk para petugas penyuluh di manapun anda berada.

1) ngabring: berangkat bersama ramai-ramai


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,838 other followers